Lasem, mungkin nama ini asing di telinga masyarakat. Kota kecil yang terletak di jalan Pantura di antara jalur Semarang-Surabaya ini menyimpan banyak sekali cerita dan budaya yang asyik untuk diperbincangkan. Kota ini dulu merupakan kota yang ramai dan berjaya, namun di abad 20 sampai sekitar awal dekade di abad 21 ini terbilang sebagai kota yang sepi bahkan kehilangan semangatnya.
Dari keadaan yang memprihatinkan inilah, banyak aktivis ingin membangun kembali semangat masyarakat Lasem yang kian memudar. Gerakan ini dipelopori oleh Forum Komunitas Masyarakat Sejarah (FOKMAS) Lasem bersama Rembang Heritage Society (RHS) berniat menjadikan Lasem sebagai Kota Pusaka Dunia (World Heritage City) pertama di Indonesia.
Dari sinilah semangat pemuda-pemuda mulai tergugah dan ingin bersama-sama mewujudkan impian kota kecil yang sering dijuluki sebagai Kota Tiongkok Kecil (peneliti asal Perancis menyebutnya: Le Petit Chinois) ini, termasuk kami sebagai organisasi pemuda yang masih bau kencur. Bersama mereka, kami dan juga organisasi-organisasi lain dari Kota Lasem, kami semua juga turut serta dalam mewujudkan impian kota Lasem.
LCHS (Lasem Creative Heritage Society) --dulu kami bernama Y-LO (Yong Lasem Organization)--, mencoba untuk melestarikan Pusaka Kreatif dengan mengajak pemuda-pemudi Lasem berkreasi, berinovasi, dan berekspresi, namun tetap berlandaskan nilai-nilai pusaka/warisan (heritage) dan budaya kota Lasem.
Sebagai organisasi yang baru berdiri di tahun 2013 ini, kami memang masih membutuhkan bantuan dari kedua organisasi penggerak (FOKMAS dan RHS). Semisal, kami butuh bantuan FOKMAS di saat kegiatan latian teater dan sastra (karena memang diantara anggotanya ada yang ahli di bidang itu), sedangkan saat kegiatan Heritage School (Sekolah Pusaka) kami dibantu oleh RHS dan RHS sangat mengharapkan kami bisa lebih maju dan RHS sering membantu kami serta mampir-mampir ke gubug kami.
Kreativitas? Gambar di atas adalah salah satu kegiatan kami, yaitu berkarya melalui barang bekas (Sore, 28 April 2013). Dari sampah-sampah botol air mineral yang berserakan, kami mencoba untuk membuat wadah pensil dan kami mengajak pemuda-pemudi Lasem untuk turut berkarya. Walau masih awam, yang jelas kami sedikit mengurangi sampah plastik di kota kami tercinta. Selain botol, kami juga memakai kain-kain batik Laseman yang sudah tidak terpakai lagi (kain perca) yang kami dapat di tempat-tempat tukang jahit.
Walau hasilnya sederhana, namun kami bangga karena bisa berkarya dan melestarikan Pusaka Kreatif para Pemuda Lasem.
Inilah sedikit cerita dari kami, sebuah organisasi pemuda yang turut mewujudkan mimpi kota Lasem sebagai World Heritage City.
Dari Lasem, salam kami untuk Dunia.
Lasem Creative Heritage Society
Walau hasilnya sederhana, namun kami bangga karena bisa berkarya dan melestarikan Pusaka Kreatif para Pemuda Lasem.
Inilah sedikit cerita dari kami, sebuah organisasi pemuda yang turut mewujudkan mimpi kota Lasem sebagai World Heritage City.
Dari Lasem, salam kami untuk Dunia.
Lasem Creative Heritage Society

Maaf sblmnya. Sy mau nulis skripsi tntg desa wisata di babagan. Sy butuh wawancara dg LSM-LSM di lasem&rembang. Kl sy mau wawancara LCHS lewat siapa ya ? Apa ada Cpnya ? Tks.
BalasHapusada, langsung aja ke mas pop. Fbnya: Bodhi Pop, Twitter: @lasemheritage , no.hp: 08995826616
Hapus