Nah..... yang mau tau gimana sih persiapan Lasem Fest (Festival Lasem) 2013, ini mau kami share buat kalian semua. Oke langsung saja dinikmati :D wkwkwk
Nah itulah sedikit foto kegiatannya. Sebenernya masih banyak lagi sih, tapi males uploadnya :D :D :D
[gss]
Dari Lasem, salam kami untuk Dunia
Lasem Creative Heritage Sociey
Senin, 14 Oktober 2013
Perang Kuning/Perang Lasem
Sedikit ulasan tentang Perang Kuning/Perang Lasem dari blog sebelah (dengan sedikit pengeditan tata tulisan):
(Rupang Panji Margono di Klenteng Gie Yong Bio, Babagan)
Ini ulasannya:
Pada tahun 1679, Lasem Bagian dari kerajaan Mataram diserang oleh VOC yang ingin mendapatkan monopoli perdagangan dipesisir pantai utara Jawa. Lasem setelah melalui peperangan yang berlangsung lama dan berlarut-larut menimbulkan kebencian warga Lasem ( Warga Pribumi maupun Tionghoa telah membaur waktu itu ) terhadap Belanda maupun penguasa Mataram sebagai boneka Belanda. tahun 1714, Sunan Pakubuwono I mengangkat Pangeran Tejakusuma V menjadi Adipati Lasem. Ia tak menyukai Sunan Pakubowono I maupun penggantinya yaitu Sunan Pakubowono II yang sangat erat dengan belanda. tahun 1727 Prabu Tejakusuma V mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Putranya Raden Panji Margana tidak berkeinginan menjadi Adipati Lasem, ia lebih memilih menjadi pengusaha & hidup ditengah2 masyarakat. jabatan Adipati Lasem diserahkan kepada sahabat karibnya yang bernama Oey Ing Kiat seorang Tionghoa Islam yang sangat kaya. Oey Ing Kiat dilantik menjadi Adipati Lasem pada tahuan 1727 oleh Sunan Pakubowono II dan diberi gelar Tumenggung Widyaningrat. Oey Ing Kiat adalah keturunan Bi Nang Oen, salah seorang juru mudi armada Laksamana Cheng Ho yang mendarat di Bonang-Lasem. Bi Nang Oen seorang pujangga dari Campa dan penyebar agama Islam di Lasem pada awal abad ke XV. Pada tahun 1740 , akibat pembantaian orang Tionghoa di Batavia, kurang lebih 1.000 orang Tionghoa Batavia lari dan mengungsi di Lasem, Pada tahun 1741, akibat kerusuhan di Kartasura, Ngawi dan banyak kota di Jawa Tengah banyak orang Tionghoa mengungsi ke Lasem. mengungsi ke Lasem karena melihat seorang adipatinya adalah sosok thionghoa islam yang bisa mengayomi. melihat kondisi tersebut membuat Raden Panji Margana, Oey Ing Kiat & warga Lasem pribumi/china semakin benci terhadap belanda.
Penyerangan oleh Pembrontak Lasem ini dibagi menjadi dua kelompok, kelompok penyerang dari Laut dipimpin oleh Tan Kee Wie dan kelompok penyerangan jalan kaki dipimpin oleh Raden Panji Margana dan Raden Ngabehi Widyaningrat. dibantu oleh Pembrontak dari Dresi dan Jangkungan mereka menyerang tangsi Belanda di Rembang. Tangsi tersebut berhasil diporak porandakan serta banyak serdadu Belanda dan kaki tangannya terbunuh. Kemudian dari Rembang mereka bergerak ke Barat dengan menyerang tangsi Belanda di Timur sungai Juwana. Dalam penyerangan ini mereka dibantu pembrontak Tionghoa dan Jawa dari Purwodadi. Pertahanan Belanda di Juwana ini sudah diperkuat dengan senapan api dan meriam dari Semarang sehingga pada serangan pertama pada siang hari mereka gagal.
Pada penyerangan kedua menjelang subuh esok harinya dari arah selatan dengan memakai rakit bambu dan batang pisang melalui sungai Juwana mereka dapat merebut tangsi tersebut. Keesokan harinya datang lagi bala bantuan dari Semarang yang mengakibatkan kerugian besar dipihak pembrontak tetapi akhirnya kemenangan dapat diraih mereka.
Dari kota Juwana mereka hendak menyerang tangsi Belanda di Jepara. Tan Kee Wie dengan armada Jung dan perahu berangkat dari Dresi, sampai dipesisir Tayu mereka dapat tambahan orang Tionghoa Tayu yang juga sudah siap ingin ikut menyerang Belanda di Jepara. Malang tak terelakkan karena sewaktu jung yang dinaiki Tan Kee Wie melewati celah antara Ujung Watu dan Pulau Madalika ditembaki meriam Belanda dari dua sisi sehingga jung tersebut pecah kena peluru meriam dan beliau tewas ditengah laut ( 5 Nopember 1742 )
Untuk menghormati kepahlawanan Tan Kee Wie dan rekan-rekan mereka yang gugur maka dibuatlah prasasti batu granit berukir ditempatkan pada batas tembok Tan Kee Wie di Batok Mimi yaitu bagian kiri dari muara sungai Paturen (Sungai Lasem) yang membelah kota Lasem.
Raden Panji Margana bersama pengawalnya Galiyo melepas baju hitamnya dan menukarnya dengan pakaian rakyat biasa di desa Raci. Berdua mereka membeli peralatan dapur bekas dari tembaga yang mereka pergunakan dalam penyamaran sebagai tukang loak barang tembaga dalam perjalanan kembali ke Lasem.
Adipati Widyaningrat melepas pakaian hitamnya dan menyamar menjadi orang Jawa. Sesampainya di Kartasura beliau melapor ke Sunan Pakubuwono II bahwa ia lari dari Lasem karena hendak dibunuh oleh kaum pembrontak. keadaan tenang Oey Ing Kiat kembali ke Lasem dan oleh Sunan Pakubuwono II kedudukannya sebagai Adipati Lasem dicabut dan oleh VOC Belanda ia hanya diberi kekuasaan mengatur orang Tionghoa Lasem dengan pangkat Mayor. Beliu digantikan oleh Surodimunggolo III yg kadipatennya di Tulis-Lasem.
Lasem 1747, rakyat Lasem dikumpulkan dan diancam :
1. Siapa-siapa yang bersengkokol dengan pemberontak akan disiksa sampai mati.
2. Dilarang menyimpan kitab-kitab suci Hindu Syiwa, Budha, Pustaka Sabda Badrasanti ( Babad Bumi Lasem ) dan catatan - catatan pembrontak dan menyerahkannya ke Kadipaten.
3. Barang siapa yang masih menyimpan akan dihukum cambuk dua puluh lima kali.
4. Candi-candi di Lasem harus dibongkar dan patung-patungnya dihancurkan.
Alhasil ribuan kitab dan buku lontar berhasil dikumpulkan di alun-alun dan dibakar, kecuali kitab-kitab yang berada di kediaman Raden Panji Margana.
Melihat kondisi di Lasem tidak aman Surodimunggolo memindahkan kadipatennya di Magersari-Rembang.Begitu pula VOC memindahkan benteng Tulis ke Rembang.
Pada Agustus 1750 Raden Panji Margana mendengar bahwa pembrontak di Argosoka hendak mengangkat senjata maka semangatnya untuk melawan Belanda timbul kembali. Pada suatu hari Kamis Raden Panji Margana meminta agar masyarakat Lasem berkumpul, pada hari Jum’at esok harinya di alun-alun didepan masjid Lasem sembahyang Jum’at tersebut dipimpin oleh Kyai Ali Badawi seorang ulama besar Lasem & mempunyai pondok pesantren di Sumurkepel. Setelah selesai bersembahyang ia mengumumkan mengajak umat Islam Lasem perang jihad mengusir Belanda dan antek-anteknya dari bumi Rembang bergabung dengan pembrontak Tionghoa.
Rencana penyerangan Rembang ini rupanya bocor dua minggu sebelum penyerangan terjadi, Belanda dan Adipati Suroadimenggolo III yang kemudian mengungsikan anggota keluarganya ke Jepara. Bantuan prajurit dari Adipati Tuban dipimpin oleh Tumenggung Citrasoma menurunkan prajuritnya di Bonang dan Leran dan dihadang oleh pembrontak Argasoka pimpinan Raden Panji Suryakusuma. Tentara VOC dari Jepara menyusup dari laut sampai di Layur ( barat sungai Paturenan sebelah utara Lasem ). Mereka dihadang oleh pembrontak Lasem dibawah pimpinan Mayor Oey Ing Kiat yang mempunyai banyak senapan dan meriam hasil rampasan. Senjata-senjata tersebut disembunyikan dalam terowongan yang digali ditepi sungai Paturenan. Di timur sungai Paturenan sebelah utara Lasem, serdadu VOC dan prajurit Citrasoma dihadang oleh pembrontak Lasem yang dipimpin oleh Kyai Badawi. Bala sabil ini menggunakan ilmu kanuragan ” PETAK SEGARA MACAN ” yang mana ilmu ini membuat orang tak dapat terluka oleh senjata tajam. Tetapi banyak bala sabil yang mati dihantam peluru meriam yang ditembakkan Belanda dari kapalnya. Di Barat Lasem yaitu di Narukan dan Karangpace sampai ke utara dipinggir laut, pembrontak dibawah pimpinan Raden Panji Margana bertempur dengan serdadu Belanda dan antek-anteknya, bertempur jarak dekat satu lawan satu. Di Narukan ini lambung sebelah kiri Raden Panji Margana terluka oleh pedang sehingga sebagian ususnya keluar. Beliau dibawa mundur oleh Ki Mursada yang kemudian digendong oleh Ki Galiya ( pengawal pribadinya ) dibawa lari dengan dilindungi oleh Ki Mursada yang terus memainkan jurus-jurus goloknya.
Rencana penyerangan Rembang ini rupanya bocor dua minggu sebelum penyerangan terjadi, Belanda dan Adipati Suroadimenggolo III yang kemudian mengungsikan anggota keluarganya ke Jepara. Bantuan prajurit dari Adipati Tuban dipimpin oleh Tumenggung Citrasoma menurunkan prajuritnya di Bonang dan Leran dan dihadang oleh pembrontak Argasoka pimpinan Raden Panji Suryakusuma. Tentara VOC dari Jepara menyusup dari laut sampai di Layur ( barat sungai Paturenan sebelah utara Lasem ). Mereka dihadang oleh pembrontak Lasem dibawah pimpinan Mayor Oey Ing Kiat yang mempunyai banyak senapan dan meriam hasil rampasan. Senjata-senjata tersebut disembunyikan dalam terowongan yang digali ditepi sungai Paturenan. Di timur sungai Paturenan sebelah utara Lasem, serdadu VOC dan prajurit Citrasoma dihadang oleh pembrontak Lasem yang dipimpin oleh Kyai Badawi. Bala sabil ini menggunakan ilmu kanuragan ” PETAK SEGARA MACAN ” yang mana ilmu ini membuat orang tak dapat terluka oleh senjata tajam. Tetapi banyak bala sabil yang mati dihantam peluru meriam yang ditembakkan Belanda dari kapalnya. Di Barat Lasem yaitu di Narukan dan Karangpace sampai ke utara dipinggir laut, pembrontak dibawah pimpinan Raden Panji Margana bertempur dengan serdadu Belanda dan antek-anteknya, bertempur jarak dekat satu lawan satu. Di Narukan ini lambung sebelah kiri Raden Panji Margana terluka oleh pedang sehingga sebagian ususnya keluar. Beliau dibawa mundur oleh Ki Mursada yang kemudian digendong oleh Ki Galiya ( pengawal pribadinya ) dibawa lari dengan dilindungi oleh Ki Mursada yang terus memainkan jurus-jurus goloknya.
Sesampainya ditempat sepi , di utara Gombong, mereka berhenti untuk merawat luka Raden Panji Margana yang banyak mengeluarkan darah yang akhirnya Raden Panji Margana meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia beliau meninggalkan pesan-pesan sebagai berikut :
1. Agar jenasahnya dikubur dibawah pohon trenggulun di desa Sambong dan kuburannya tanpa gundukan tanah dan batu nisan.
2. Istri dan anak-anaknya diungsikan ke Narukan.
3. Buku - buku suci dan Pustaka Badrasanti koleksinya agar dititipkan pada Ki Badraguna ( lurah Criwik )
3. Tembang sinom gubahannya sewaktu pulang dari perang Juwana agar dilestarikan sebagai kidung para dalang dan pesinden Lasem.
Mayor Oey Ing Kiat ketika mendengar berita bahwa Raden Panji Margana telah meninggal karena luka di Karang Pace sangat marah sambil berteriak-teriak : ” Aku ingin mati menyusul saudaraku Den Panji dan saudaraku Tan Kee Wie ”.
Dengan membawa pedang pusaka Naga Gak Sow Bun nekad maju menyusup kedepan kemedan perang. Desing peluru dan ledakan peluru meriam tak membuat ciut nyalinya. Banyak prajurit Belanda tewas di tangannya. Karena amarah yang tak terkendali membuat hilang kewaspadaannya dan beliau tertembak dadanya oleh serdadu bayaran Belanda dari Ambon.
Dengan mendekap dadanya yang terluka, Oey Ing Kiat mundur dari medan perang. Dibelakang medan perang ia ambruk dan meninggalkan pesan kepada yang mengelilinginya :
1. agar jasadnya dikubur dilereng puncak gunung Bugel dan menghadap barat. Makamnya hendaknya ditandai dengan dayung perahu dan pohon beringin
2. lokasinya dirahasiakan kecuali hanya keluarga yang tahu.
3. Jenasahnya dibawa ke Warugunung di rumah istri mudanya untuk dibersihkan dan dimakamkan.
Bupati Suroadimenggolo III dikembalikan ke Semarang karena dianggap gagal menentramkan warga Lasem. Akibat perang pembrontakan ini ribuan warga pribumi dan Tionghoa Lasem terbunuh.
Setelah kota Lasem tenang, maka pada tahun 1780 di desa Babagan masyarakat Tionghoa mendirikan monumen untuk mengenang jasa ketiga pemimpin tersebut berupa sebuah Klenteng untuk memuliakan pahlawannya. Oleh masyarakat Tionghoa di Rembang dan Juwana pahlawan-pahlawan ini dimuliakan pula dengan memasang patung pahlawan tersebut di Klenteng mereka.
PERANG ini adalah Perang yang semua orang bersatu tanpa memandang Agama, etnis / latar belakang karena semua hanya bertujuan untuk melawan Penjajah VOC belanda.
dari Kitab Carita Sajarah Lasem Karya R. Panji Kamzah yang ditulis ulang oleh R. Panji Karsono tahun 1920.
[gss]
Dari Lasem, salam kami untuk Dunia
Lasem Creative Heritage Society
LasemFest Hari Pertama - Napak Tilas Pejuang Perang Lasem (3)
Oke kita lanjut lagi setelah dari Makam Raden Panji Margono...

Perjalanan dimulai sekitar pukul 10.35 meninggalkan Dorokandang menuju ke Jalan Raya Lasem, menuju ke timur perlahan merayap mengikuti alur, lalu setelah sampai di Depan BNI Lasem belok ke selatan tepatnya ke Jalan Nyah Waloh desa Karangturi melintasi Kampoeng Lampion lalu belok ke Timur melintasi depan Rumah Oma Opa dan 'jablas lurus' ke Perempatan Cap Jago, kemudian belok ke kanan ke selatan sodara-sodara (wiyah ganthane koyok pemnadu sirkuit balapan :D #LasemLingua) tepatnya melintasi Jalan Eyang Sambu. Merambat terus perlahan namun pasti, sampai di kompleks Makam desa Pohlandak bertolak ke kiri menuju desa Warugunung lewat jalur selatan dan sampai di pertiagaan dekat jalan setapak menuju lereng Gunung Bugel tepatnya menuju tempat terakhir di Napak Tilas Pejuang Perang Lasem edisi tahun 2013.
Setelah memarkirkan motor di warung kopi terdekat, kami sedikit melakukan pembekalan sebelum mendaki lereng Gunung Bugel. Dengan semangat yang tak kenal lelah namun capek (wakakak podho ae cah), kami yang masih sanggup mendaki langsung saja menuju ke spot terakhir. Manakah itu???? (tanykan peta, tanyakan peta - korban Film Dora :D)
Yap, Makam Raden Ngabehi Tumenggung Widyaningrat / Oei Ing Kiat. Beliau adalah satu-satunya adipati Lasem yang berdarah Tionghoa dan beliau adalah Tionghoa Muslim. Jadi kalau Anda juga seorang muslim dan ingin menahlilkan atau meyasini, silakan. Oei Ing Kiat juga merupakan salah satu Pahlawan Lasem yang memimpin Laskar Pasukan China (Tionghoa) dalam Perang Lasem. Ia adalah salah satu dari 3 Serangkai bersama saudara angkatnya R.M.Panji Margono dan Babah Tan Kee Wi yang ketiga tokoh ini sangat legendaris dan berbahaya bagi musuh-musuhnya.
Perjalanan kali ini sungguh melelahkan dan menguras tenaga ditambah cuaca Area Kota Lasem di siang hari yang terik panas membara (wuuuuiiihhhhh... bosone ngeri ngerong :D).
Bahkan banyak yang bersandar dibawah pohon jati dan jambu mente dengan membawa kipas dari jaun jati yang kering berserakan di sekitar area makam. Setelah agak pulih tenaga kami, dilanjutkan dengan penjelasan dari FOKMAS mengenai area yang kami kunjungi kali ini. Di area ini terdapat 2 bangunan makam, yaitu keramik biru-hijau adalah Makam Oei Ing Kiat yang terlihat di samping ini. Sembari masih melepas lelah, kami sharing-sharing masalah Lasem dan tanya-jawab urun-rembug pun seru antara pihak Fokmas, Pelajar, Guru, Mahasiswa, bos LB (toko LautBonang), maupun masyarakat. Bahkan diantara kami ada yang nyeletuk, "Kalau sudah di atas sini, rasanya ogah untuk turun. Masih betah melepas lelah di sini (karena sangking panasnya)". Usai agak lama di sana, kami pun akhirnya turun ke bawah dan ditraktir es oleh bos LB di warung tempat parkir motor di bawah. Selesai sudah perjalanan Napak Tilas Pejuang Perang Lasem edisi Lasem Fest 2013 ini.Tanpa kita sadari, banyak ilmu yang kita dapat dan itu sangat penting bagi kita khususnya Wong Lasem.
[gss]
Dari Lasem, salam kami untuk Dunia
Lasem Creative Heritage Society
LasemFest Hari Pertama - Napak Tilas Pejuang Perang Lasem (2)
Nah.... lanjut meneh iki cah.
Setelah panas-panasan berkunjung ke Makam Tan Sin Ko, pukul 10.17 pasukan laskar Napak Tilas Pejuang Perang Lasem sudah sampai di titik kedua, yaitu di Makam R.M. Panji Margono, putra Raden Mas Panji Sasongko, Adipati TejakusumaV (Adipati Lasem kelima).

Masih sama tempatnya di desa ujung barat Lasem, Desa Dorokandang, namun lokasi tepatnya ada di Dukuh Sambong (utara desa Dorokandang). Pacinta Lasem pasti sudah tahu siapa beliau, kan? Nah sip! Beliau adalah Pahlawan Terkenal dari Lasem bersama 2 saudara angkatnya (Raden Ngabehi Tumenggung Widyaningrat/Oei Ing Kiat dan Babah Tan Kee Wi).
Raden Mas Panji Margono ini memimpin Perang Pecinan/Perang Kuning/Perang Lasem I (1740-1743) dan Perang Gada Walik/Perang Kuning II/Perang Lasem II (Agustus 1750) dengan pasukan pribumi Jawa Lasem yang dipimpinnya yang disebut Laskar Nayasentika . Walaupun beliau keturunan ningrat, beliau tidak mau jadi Adipati Lasem dan memilih untuk hidup 'namur kawula' ditengah-tengah masyarakat. Ketika itu sungai Lasem (Sungai Babagan atau jaman dulu disebut Sungai Paturen) dibendung dan ditinggikan sebelah timur, jadi air sungai bisa mengucuri lahan sebelah barat yaitu Babagan dan Dorokandang, desa yang beliau tinggali. Dari keadaan hidup di tengah-tengah masyarakat inilah justru mendidik mental beliau menjadi pejuang yang tangguh. Raden Mas Panji Margono mempunyai 2 ajudan setia, makamnya terletak di samping makam beliau dan satunya lagi di dekat Sungai Kaeringan (orang sekitar sering menyebutnya Makam Mbah Sedandang, karena semasa hidupnya beliau adalah penjual dandang).

Ketika perang, beliau tertembak meriam di lambungnya dan ketika itu beliau tertembak (duooorrrrr) di daerah Karangpace. Jasad beliau yang penuh luka dan darahnya bercucuran ini (getihe muncrat-muncrat ngalir) dilarikan oleh ajudan-ajudannya ke Dorokandang.
Sebelum beliau gugur, beliau berpesan agar makamnya disamarkan dan dibuat seangker mungkin, namun makamnya boleh diperlihatkan kalau VOC sudah pergi dari Jawa (maksudnya, setelah perang sudah usai). Nah loh??? Lalu bagaimana tahu makam beliau??? Ngene leh critane (#LasemStyle :D), para pengikut setia beliau sudah tahu dimana letak makam R.M.Panji Margono, tandanya adalah di dukuh Sambong dan dibawah Pohon Trenggulun. Namun sepeninggalan wafatnya beliau, keluarganya (anak dan istri) diungsikan di dukuh Narukan, Dorokandang.
Nah itulah situs Kedua yang dikunjungi, selanjutnya ada di postingan berikutnya....
(bersambung meneh iki cah)
[gss]
Dari Lasem, salam kami untuk Dunia.
Lasem Creative Heritage Society
Lasem Creative Heritage Society
LasemFest Hari Pertama - Napak Tilas Pejuang Perang Lasem (1)
Bagi yang sering mantengin akun twitternya LCHS Pusat (@PemudaLasem) atau para pengurusnya dan akun resmi LasemFest (@festivallasem) pasti udah pada tahu, kalo Ahad 13 Oktober 2013 udah mulai acara Festival Lasemnya.
Nah, acara pertamanya tadi itu Napak Tilas Pejuang Perang Lasem. Yang hadir buanyak banget, dari kalangan pelajar, organisasi, mahasiswa, jurnalis, bahkan turis luar kota pun hadir. Pembekalannya di Kantor Polisi (Polsek) Lasem pukul 09.20 WIL (Waktu Indonesia bagian Lasem #wkwkwk). Pembukaan dipimpin oleh Pak Yon (anggota FOKMAS Lasem) dan dengan sambutan dari Kapolsek Lasem. Lalu sekitar pukul 09.35 WIL para peserta berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing (wuih... bosone cah :D) dan pukul 09.40 berangkat dari Polsek Lasem diiringi pak Pulisi (Polsek maksudku lur) menuju ke Desa Dorokandang bagian Tenggara, tepatnya di sawah Narukan (ape macul tah ngarit, cah? #LasemLingua wkwkwk) lebih pasnya lagi kunjungan "PERTAMA" di acara ini adalah di Makam Tan Sin Ko (wong-wong kene nyeluke Bong Singseh ngono #hehe ), pukul 09.58 sampai Bong Singseh .
Cerito sithik yo cah, Tan Sin Ko itu adalah orang Tionghoa Lasem yang ikut berperang melawan VOC. Makamnya gak lazim kayak makam-makam orang Tionghoa umumnya, soalnya makam ini "menghadap ke Gunung Lasem (menghadap Timur)", padahal makam menghadap gunung adalah pamali bagi warga China. Tan Sin Ko itu salah satu Panglima Perang dan sahabat dari Raden Mas Said (Amangkurat V) yang tewas dalam Perang Kuning (1740-1743) melawan VOC. Makam ini baru diketahui keberadaannya pada hari Kamis (4/4). Beliau saat ini statusnya sedang diajukan sebagai PAHLAWAN NASIONAL. Keren kaaannnnn!!!!! Lasem juga Punya loh...
Penemuan makam ini berawal saat Pawala (Paguyuban Warga lasem) Jakarta, membuat Monumen Perang Lasem di TMII (keren kan Lasem udah sampai TMII). Saat itu, ketua Pawala mengakui mendapat masukan dari Darajadi (Penulis buku Geger Pecinan 1740-1743) untuk mencari makam salah satu Panglima Perang (Tan Sin Ko). Tan Sin Ko berperang di Demak, Grobogan, Welahan, Pati, Kudus, Juwana, dan Lasem. Beliau gugur dipenggal di Lasem tahun 1742 dan kepalanya dibawa sang Pemenggal (budal asal bali) dan diserahkan kepada Panglima Operasi Kompeni Kaptain N Steinmetz di Semarang. Sebagian namun yakin bahwa pemenggal adalah warga Jawa bernama Slamet.Jadi..... Makam ini adalah jasad Tan Sin Ko tanpa Kepala. Wow!
Pencarian makam ini tidak mudah lho, karena harus mencocokkan hasil penelitian dari Pawala, FOKMAS, dan Pihak dari Mangkunegaran yang punya data-datanya. ..
(Foto di atas menunjukkan keadaan Bong Singseh saat pertama kali di identifikasi)
Dari ulasan website tetangga tentang Tan Sin Ko, berbunyi:
"Selama ini, makam yang oleh warga sekitar hanya disebut sebagai makam Singseh itu, tidak terawat dan ditumbuhi semak belukar. “Bahkan tahun 1998, menurut warga sekitar, Granit Bong Pai dan Tok Pai makam ini dijarah orang untuk dijual,“ terang dia.
Saat pencarian, tim Pawala sempat nyaris keliru, karena mendatangi sebuah makam China tua yang juga berada di Desa Dorokandang. Beruntung tim Palawa bertemu dengan Forum Komunikasi Masyarakat (Fokmas) Lasem yang menunjukkan makam asli Singseh Tan Sin Ko.
“Setelah 200 tahun lebih hilang dan baru ditemukan beberapa hari ini, kami bertekad untuk memugar makam ini agar menjadi lebih baik. Kami berharap Pemerintah bisa membantu menetapkan Singseh sebagai Pahlawan Nasional dan membangunkan infrastruktur jalan menuju makam yang masih kurang memadai ini,“ kata Prayogo, Ketua Pelaksana Pemugaran Makam Singseh.
Kepala Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) Kabupaten Rembang Sunarto yang hadir Sabtu kemarin berjanji meneruskan aspirasi Pawala, kerabat Mangkunegaran dan warga Lasem itu ke Pemkab. “Kami akan berusaha semaksimal mungkin agar aspirasi Palawa, kerabat Mangkunegaran dan warga Lasem untuk pembangunan makam dan infrastruktur diterima dan direalisasikan Pemerintah,“ tegas dia."
Nah itulah situs Pertama yang dikunjungi, selanjutnya ada di postingan selanjutnya....
(iki ceritane 'bersambung' cah.... hehehe)
[gss]
Dari Lasem, salam kami untuk Dunia.
Lasem Creative Heritage Society
Lasem Creative Heritage Society
Jumat, 11 Oktober 2013
Mencoba Membangun Semangat Kreativitas kepada Pemuda Lasem
Lasem, mungkin nama ini asing di telinga masyarakat. Kota kecil yang terletak di jalan Pantura di antara jalur Semarang-Surabaya ini menyimpan banyak sekali cerita dan budaya yang asyik untuk diperbincangkan. Kota ini dulu merupakan kota yang ramai dan berjaya, namun di abad 20 sampai sekitar awal dekade di abad 21 ini terbilang sebagai kota yang sepi bahkan kehilangan semangatnya.
Dari keadaan yang memprihatinkan inilah, banyak aktivis ingin membangun kembali semangat masyarakat Lasem yang kian memudar. Gerakan ini dipelopori oleh Forum Komunitas Masyarakat Sejarah (FOKMAS) Lasem bersama Rembang Heritage Society (RHS) berniat menjadikan Lasem sebagai Kota Pusaka Dunia (World Heritage City) pertama di Indonesia.
Dari sinilah semangat pemuda-pemuda mulai tergugah dan ingin bersama-sama mewujudkan impian kota kecil yang sering dijuluki sebagai Kota Tiongkok Kecil (peneliti asal Perancis menyebutnya: Le Petit Chinois) ini, termasuk kami sebagai organisasi pemuda yang masih bau kencur. Bersama mereka, kami dan juga organisasi-organisasi lain dari Kota Lasem, kami semua juga turut serta dalam mewujudkan impian kota Lasem.
LCHS (Lasem Creative Heritage Society) --dulu kami bernama Y-LO (Yong Lasem Organization)--, mencoba untuk melestarikan Pusaka Kreatif dengan mengajak pemuda-pemudi Lasem berkreasi, berinovasi, dan berekspresi, namun tetap berlandaskan nilai-nilai pusaka/warisan (heritage) dan budaya kota Lasem.
Sebagai organisasi yang baru berdiri di tahun 2013 ini, kami memang masih membutuhkan bantuan dari kedua organisasi penggerak (FOKMAS dan RHS). Semisal, kami butuh bantuan FOKMAS di saat kegiatan latian teater dan sastra (karena memang diantara anggotanya ada yang ahli di bidang itu), sedangkan saat kegiatan Heritage School (Sekolah Pusaka) kami dibantu oleh RHS dan RHS sangat mengharapkan kami bisa lebih maju dan RHS sering membantu kami serta mampir-mampir ke gubug kami.
Kreativitas? Gambar di atas adalah salah satu kegiatan kami, yaitu berkarya melalui barang bekas (Sore, 28 April 2013). Dari sampah-sampah botol air mineral yang berserakan, kami mencoba untuk membuat wadah pensil dan kami mengajak pemuda-pemudi Lasem untuk turut berkarya. Walau masih awam, yang jelas kami sedikit mengurangi sampah plastik di kota kami tercinta. Selain botol, kami juga memakai kain-kain batik Laseman yang sudah tidak terpakai lagi (kain perca) yang kami dapat di tempat-tempat tukang jahit.
Walau hasilnya sederhana, namun kami bangga karena bisa berkarya dan melestarikan Pusaka Kreatif para Pemuda Lasem.
Inilah sedikit cerita dari kami, sebuah organisasi pemuda yang turut mewujudkan mimpi kota Lasem sebagai World Heritage City.
Dari Lasem, salam kami untuk Dunia.
Lasem Creative Heritage Society
Walau hasilnya sederhana, namun kami bangga karena bisa berkarya dan melestarikan Pusaka Kreatif para Pemuda Lasem.
Inilah sedikit cerita dari kami, sebuah organisasi pemuda yang turut mewujudkan mimpi kota Lasem sebagai World Heritage City.
Dari Lasem, salam kami untuk Dunia.
Lasem Creative Heritage Society
Langganan:
Postingan (Atom)




.jpg)









