Penyerangan oleh Pembrontak Lasem ini dibagi menjadi dua kelompok, kelompok penyerang dari Laut dipimpin oleh Tan Kee Wie dan kelompok penyerangan jalan kaki dipimpin oleh Raden Panji Margana dan Raden Ngabehi Widyaningrat. dibantu oleh Pembrontak dari Dresi dan Jangkungan mereka menyerang tangsi Belanda di Rembang. Tangsi tersebut berhasil diporak porandakan serta banyak serdadu Belanda dan kaki tangannya terbunuh. Kemudian dari Rembang mereka bergerak ke Barat dengan menyerang tangsi Belanda di Timur sungai Juwana. Dalam penyerangan ini mereka dibantu pembrontak Tionghoa dan Jawa dari Purwodadi. Pertahanan Belanda di Juwana ini sudah diperkuat dengan senapan api dan meriam dari Semarang sehingga pada serangan pertama pada siang hari mereka gagal.
Pada penyerangan kedua menjelang subuh esok harinya dari arah selatan dengan memakai rakit bambu dan batang pisang melalui sungai Juwana mereka dapat merebut tangsi tersebut. Keesokan harinya datang lagi bala bantuan dari Semarang yang mengakibatkan kerugian besar dipihak pembrontak tetapi akhirnya kemenangan dapat diraih mereka.
Dari kota Juwana mereka hendak menyerang tangsi Belanda di Jepara. Tan Kee Wie dengan armada Jung dan perahu berangkat dari Dresi, sampai dipesisir Tayu mereka dapat tambahan orang Tionghoa Tayu yang juga sudah siap ingin ikut menyerang Belanda di Jepara. Malang tak terelakkan karena sewaktu jung yang dinaiki Tan Kee Wie melewati celah antara Ujung Watu dan Pulau Madalika ditembaki meriam Belanda dari dua sisi sehingga jung tersebut pecah kena peluru meriam dan beliau tewas ditengah laut ( 5 Nopember 1742 )
Untuk menghormati kepahlawanan Tan Kee Wie dan rekan-rekan mereka yang gugur maka dibuatlah prasasti batu granit berukir ditempatkan pada batas tembok Tan Kee Wie di Batok Mimi yaitu bagian kiri dari muara sungai Paturen (Sungai Lasem) yang membelah kota Lasem.
Raden Panji Margana bersama pengawalnya Galiyo melepas baju hitamnya dan menukarnya dengan pakaian rakyat biasa di desa Raci. Berdua mereka membeli peralatan dapur bekas dari tembaga yang mereka pergunakan dalam penyamaran sebagai tukang loak barang tembaga dalam perjalanan kembali ke Lasem.
Adipati Widyaningrat melepas pakaian hitamnya dan menyamar menjadi orang Jawa. Sesampainya di Kartasura beliau melapor ke Sunan Pakubuwono II bahwa ia lari dari Lasem karena hendak dibunuh oleh kaum pembrontak. keadaan tenang Oey Ing Kiat kembali ke Lasem dan oleh Sunan Pakubuwono II kedudukannya sebagai Adipati Lasem dicabut dan oleh VOC Belanda ia hanya diberi kekuasaan mengatur orang Tionghoa Lasem dengan pangkat Mayor. Beliu digantikan oleh Surodimunggolo III yg kadipatennya di Tulis-Lasem.
Lasem 1747, rakyat Lasem dikumpulkan dan diancam :
1. Siapa-siapa yang bersengkokol dengan pemberontak akan disiksa sampai mati.
2. Dilarang menyimpan kitab-kitab suci Hindu Syiwa, Budha, Pustaka Sabda Badrasanti ( Babad Bumi Lasem ) dan catatan - catatan pembrontak dan menyerahkannya ke Kadipaten.
3. Barang siapa yang masih menyimpan akan dihukum cambuk dua puluh lima kali.
4. Candi-candi di Lasem harus dibongkar dan patung-patungnya dihancurkan.
Alhasil ribuan kitab dan buku lontar berhasil dikumpulkan di alun-alun dan dibakar, kecuali kitab-kitab yang berada di kediaman Raden Panji Margana.
Melihat kondisi di Lasem tidak aman Surodimunggolo memindahkan kadipatennya di Magersari-Rembang.Begitu pula VOC memindahkan benteng Tulis ke Rembang.
Pada Agustus 1750 Raden Panji Margana mendengar bahwa pembrontak di Argosoka hendak mengangkat senjata maka semangatnya untuk melawan Belanda timbul kembali. Pada suatu hari Kamis Raden Panji Margana meminta agar masyarakat Lasem berkumpul, pada hari Jum’at esok harinya di alun-alun didepan masjid Lasem sembahyang Jum’at tersebut dipimpin oleh Kyai Ali Badawi seorang ulama besar Lasem & mempunyai pondok pesantren di Sumurkepel. Setelah selesai bersembahyang ia mengumumkan mengajak umat Islam Lasem perang jihad mengusir Belanda dan antek-anteknya dari bumi Rembang bergabung dengan pembrontak Tionghoa.
Rencana penyerangan Rembang ini rupanya bocor dua minggu sebelum penyerangan terjadi, Belanda dan Adipati Suroadimenggolo III yang kemudian mengungsikan anggota keluarganya ke Jepara. Bantuan prajurit dari Adipati Tuban dipimpin oleh Tumenggung Citrasoma menurunkan prajuritnya di Bonang dan Leran dan dihadang oleh pembrontak Argasoka pimpinan Raden Panji Suryakusuma. Tentara VOC dari Jepara menyusup dari laut sampai di Layur ( barat sungai Paturenan sebelah utara Lasem ). Mereka dihadang oleh pembrontak Lasem dibawah pimpinan Mayor Oey Ing Kiat yang mempunyai banyak senapan dan meriam hasil rampasan. Senjata-senjata tersebut disembunyikan dalam terowongan yang digali ditepi sungai Paturenan. Di timur sungai Paturenan sebelah utara Lasem, serdadu VOC dan prajurit Citrasoma dihadang oleh pembrontak Lasem yang dipimpin oleh Kyai Badawi. Bala sabil ini menggunakan ilmu kanuragan ” PETAK SEGARA MACAN ” yang mana ilmu ini membuat orang tak dapat terluka oleh senjata tajam. Tetapi banyak bala sabil yang mati dihantam peluru meriam yang ditembakkan Belanda dari kapalnya. Di Barat Lasem yaitu di Narukan dan Karangpace sampai ke utara dipinggir laut, pembrontak dibawah pimpinan Raden Panji Margana bertempur dengan serdadu Belanda dan antek-anteknya, bertempur jarak dekat satu lawan satu. Di Narukan ini lambung sebelah kiri Raden Panji Margana terluka oleh pedang sehingga sebagian ususnya keluar. Beliau dibawa mundur oleh Ki Mursada yang kemudian digendong oleh Ki Galiya ( pengawal pribadinya ) dibawa lari dengan dilindungi oleh Ki Mursada yang terus memainkan jurus-jurus goloknya.
Sesampainya ditempat sepi , di utara Gombong, mereka berhenti untuk merawat luka Raden Panji Margana yang banyak mengeluarkan darah yang akhirnya Raden Panji Margana meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia beliau meninggalkan pesan-pesan sebagai berikut :
1. Agar jenasahnya dikubur dibawah pohon trenggulun di desa Sambong dan kuburannya tanpa gundukan tanah dan batu nisan.
2. Istri dan anak-anaknya diungsikan ke Narukan.
3. Buku - buku suci dan Pustaka Badrasanti koleksinya agar dititipkan pada Ki Badraguna ( lurah Criwik )
3. Tembang sinom gubahannya sewaktu pulang dari perang Juwana agar dilestarikan sebagai kidung para dalang dan pesinden Lasem.
Mayor Oey Ing Kiat ketika mendengar berita bahwa Raden Panji Margana telah meninggal karena luka di Karang Pace sangat marah sambil berteriak-teriak : ” Aku ingin mati menyusul saudaraku Den Panji dan saudaraku Tan Kee Wie ”.
Dengan membawa pedang pusaka Naga Gak Sow Bun nekad maju menyusup kedepan kemedan perang. Desing peluru dan ledakan peluru meriam tak membuat ciut nyalinya. Banyak prajurit Belanda tewas di tangannya. Karena amarah yang tak terkendali membuat hilang kewaspadaannya dan beliau tertembak dadanya oleh serdadu bayaran Belanda dari Ambon.
Dengan mendekap dadanya yang terluka, Oey Ing Kiat mundur dari medan perang. Dibelakang medan perang ia ambruk dan meninggalkan pesan kepada yang mengelilinginya :
1. agar jasadnya dikubur dilereng puncak gunung Bugel dan menghadap barat. Makamnya hendaknya ditandai dengan dayung perahu dan pohon beringin
2. lokasinya dirahasiakan kecuali hanya keluarga yang tahu.
3. Jenasahnya dibawa ke Warugunung di rumah istri mudanya untuk dibersihkan dan dimakamkan.
Bupati Suroadimenggolo III dikembalikan ke Semarang karena dianggap gagal menentramkan warga Lasem. Akibat perang pembrontakan ini ribuan warga pribumi dan Tionghoa Lasem terbunuh.
Setelah kota Lasem tenang, maka pada tahun 1780 di desa Babagan masyarakat Tionghoa mendirikan monumen untuk mengenang jasa ketiga pemimpin tersebut berupa sebuah Klenteng untuk memuliakan pahlawannya. Oleh masyarakat Tionghoa di Rembang dan Juwana pahlawan-pahlawan ini dimuliakan pula dengan memasang patung pahlawan tersebut di Klenteng mereka.
PERANG ini adalah Perang yang semua orang bersatu tanpa memandang Agama, etnis / latar belakang karena semua hanya bertujuan untuk melawan Penjajah VOC belanda.
dari Kitab Carita Sajarah Lasem Karya R. Panji Kamzah yang ditulis ulang oleh R. Panji Karsono tahun 1920.
[gss]
Dari Lasem, salam kami untuk Dunia
Lasem Creative Heritage Society