Selasa, 18 Februari 2014

DIBALIK KISAH BERDIRINYA KAMI



Kisah kami berdiri...
Dahulu, waktu itu sekitar awal bulan Maret, aku (Hadi Nur Prasetyo) bersama Baha’, Karis, Lilik Dwi Haryanto, sedang nongkrong di Jahesu (sebuah warung angkringan di Alun-alun Lasem), kami melihat anak-anak muda yang ngalor-ngidul, lalu kami berbincang membicarakan mereka (rasan-rasan). Lalu aku (Hadi Nur Prasetyo) usul kepada kawan-kawan untuk membuat organisasi. Pada tanggal 14 Maret 2013, kami menemui Mas Baskoro Pop (seorang pakar Pusaka/Heritage di tempat kami), meminta bantuan dan saran-saran. Sekitar tanggal 16 Maret 2013, terbentuklah organisasi ini.


[gss]
Lasem Creative Heritage Society
Dari Lasem, Salam Kami untuk Dunia

LCHS: iseng 1


Lasem Creative Heritage Society - Javastyle

Galeri Foto Lasem Fest Hari Pertama

Oke, bagi yang belum sempat ikut LasemFest (Festival Lasem) hari pertama yang agendanya Napak Tilas Pejuang Perang Lasem, tenang saja. Ini kami share foto-fotonya.
Langsung se yo cah mundhak kesuwen. Ini dia......
1. Pemberangkatan


2. Makam Tan Sin Ko (Bong Singseh)




Minggu, 19 Januari 2014

LCHS Sedang Memroses Produk

Assalamualaikum...
Om swastyasu...
Namo Sanghyang Abhi Buddhaya...
Shalom...
hehehehehehe

Nah, lama kita tak berjumpa, dulur. Setelah beberapa waktu tidak posting, akhirnya sekarang posting lagi. Cuma sekedar berbagi pengalaman aja (padahal kami belum berpengalaman :D ), puji syukur atas rahmat-Nya, kami sebentar lagi sudah punya produk. Nah sekarang ini kami sedang berproses dalam produksi kaos, pin, dan striker eh maksudnya stiker :D....

Dengan segala jerih payah kami selama ini dalam mencari modal usaha untuk membuat cenderamata bagi wisatawan-wisatawan Lasem tercinta (direwangi ndogol, miyang, matun, tandur, ndaut, nyelender tambak, nggogo tambake tonggo wkwkwk). Semua itu berkat jerih payah dulur-dulur LCHS yang mayoritas sedang merantau ke luar kota untuk menuntut ilmu (kenapa ilmunya dituntut? emang ilmunya salah kok dituntut? :-o ) untuk kemudian menerapkan ilmunya di Lasem Kota Tercinta. Di sela-sela kesibukan kami dengan tugas yang beberapa waktu kemarin menumpuk di meja kos, buanyak tugas & makalah serta laporan-laporan observasi yang harus selesai sebelum UAS, ditambah harus mumet mikir soal-soal UAS dan praktikum-prakrikum, mumet mikir tugas kuliah :D, kami sempatkan sedikit waktu, sejenak berproses dalam karya untuk Kota Lasem, kota kami yang penuh kenangan. Semoga upaya kami ini tidak sia-sia, penuh barokah, dan menjadi lompatan awal bagi kami untuk terus berkembang dan berproses dalam karya. Heheheheh.....Sebagai penutup, ada Parikan dialek Lasem dari kami:

      "Njikuk Dumbeg tok Sendangcoyo,
      Karangpace tambake uyah;
      Uteg njubleg mikirno karyo,
      Mugo ae ndadekno berkah."...

Wassalam...
[gss]

Dari Lasem, Salam Kami untuk Dunia
Lasem Creative Heritage Society

Senin, 14 Oktober 2013

Galeri Foto Persiapan Lasem Fest 2013

Nah..... yang mau tau gimana sih persiapan Lasem Fest (Festival Lasem) 2013, ini mau kami share buat kalian semua. Oke langsung saja dinikmati :D wkwkwk




Nah itulah sedikit foto kegiatannya. Sebenernya masih banyak lagi sih, tapi males uploadnya :D :D :D

[gss]


Dari Lasem, salam kami untuk Dunia
Lasem Creative Heritage Sociey

Perang Kuning/Perang Lasem



Sedikit ulasan tentang Perang Kuning/Perang Lasem dari blog sebelah (dengan sedikit pengeditan tata tulisan):

(Rupang Panji Margono di Klenteng Gie Yong Bio, Babagan)

Ini ulasannya:


Pada tahun 1679, Lasem Bagian dari kerajaan Mataram diserang oleh VOC yang ingin mendapatkan monopoli perdagangan dipesisir pantai utara Jawa. Lasem setelah melalui peperangan yang berlangsung lama dan berlarut-larut menimbulkan kebencian warga Lasem ( Warga Pribumi maupun Tionghoa telah membaur waktu itu ) terhadap Belanda maupun penguasa Mataram sebagai boneka Belanda. tahun 1714, Sunan Pakubuwono I mengangkat Pangeran Tejakusuma V menjadi Adipati Lasem. Ia tak menyukai Sunan Pakubowono I maupun penggantinya yaitu Sunan Pakubowono II yang sangat erat dengan belanda. tahun 1727 Prabu Tejakusuma V mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Putranya Raden Panji Margana tidak berkeinginan menjadi Adipati Lasem, ia lebih memilih menjadi pengusaha & hidup ditengah2 masyarakat. jabatan Adipati Lasem diserahkan kepada sahabat karibnya yang bernama Oey Ing Kiat seorang Tionghoa Islam yang sangat kaya. Oey Ing Kiat dilantik menjadi Adipati Lasem pada tahuan 1727 oleh Sunan Pakubowono II dan diberi gelar Tumenggung Widyaningrat. Oey Ing Kiat adalah keturunan Bi Nang Oen, salah seorang juru mudi armada Laksamana Cheng Ho yang mendarat di Bonang-Lasem. Bi Nang Oen seorang pujangga dari Campa dan penyebar agama Islam di Lasem pada awal abad ke XV. Pada tahun 1740 , akibat pembantaian orang Tionghoa di Batavia, kurang lebih 1.000 orang Tionghoa Batavia lari dan mengungsi di Lasem, Pada tahun 1741, akibat kerusuhan di Kartasura, Ngawi dan banyak kota di Jawa Tengah banyak orang Tionghoa mengungsi ke Lasem. mengungsi ke Lasem karena melihat seorang adipatinya adalah sosok thionghoa islam yang bisa mengayomi. melihat kondisi tersebut membuat Raden Panji Margana, Oey Ing Kiat & warga Lasem pribumi/china semakin benci terhadap belanda. 

Penyerangan oleh Pembrontak Lasem ini dibagi menjadi dua kelompok, kelompok penyerang dari Laut dipimpin oleh Tan Kee Wie dan kelompok penyerangan jalan kaki dipimpin oleh Raden Panji Margana dan Raden Ngabehi Widyaningrat. dibantu oleh Pembrontak dari Dresi dan Jangkungan mereka menyerang tangsi Belanda di Rembang. Tangsi tersebut berhasil diporak porandakan serta banyak serdadu Belanda dan kaki tangannya terbunuh. Kemudian dari Rembang mereka bergerak ke Barat dengan menyerang tangsi Belanda di Timur sungai Juwana. Dalam penyerangan ini mereka dibantu pembrontak Tionghoa dan Jawa dari Purwodadi. Pertahanan Belanda di Juwana ini sudah diperkuat dengan senapan api dan meriam dari Semarang sehingga pada serangan pertama pada siang hari mereka gagal.

Pada penyerangan kedua menjelang subuh esok harinya dari arah selatan dengan memakai rakit bambu dan batang pisang melalui sungai Juwana mereka dapat merebut tangsi tersebut. Keesokan harinya datang lagi bala bantuan dari Semarang yang mengakibatkan kerugian besar dipihak pembrontak tetapi akhirnya kemenangan dapat diraih mereka.
Dari kota Juwana mereka hendak menyerang tangsi Belanda di Jepara. Tan Kee Wie dengan armada Jung dan perahu berangkat dari Dresi, sampai dipesisir Tayu mereka dapat tambahan orang Tionghoa Tayu yang juga sudah siap ingin ikut menyerang Belanda di Jepara. Malang tak terelakkan karena sewaktu jung yang dinaiki Tan Kee Wie melewati celah antara Ujung Watu dan Pulau Madalika ditembaki meriam Belanda dari dua sisi sehingga jung tersebut pecah kena peluru meriam dan beliau tewas ditengah laut ( 5 Nopember 1742 ) 
Untuk menghormati kepahlawanan Tan Kee Wie dan rekan-rekan mereka yang gugur maka dibuatlah prasasti batu granit berukir ditempatkan pada batas tembok Tan Kee Wie di Batok Mimi yaitu bagian kiri dari muara sungai Paturen (Sungai Lasem) yang membelah kota Lasem.

Raden Panji Margana bersama pengawalnya Galiyo melepas baju hitamnya dan menukarnya dengan pakaian rakyat biasa di desa Raci. Berdua mereka membeli peralatan dapur bekas dari tembaga yang mereka pergunakan dalam penyamaran sebagai tukang loak barang tembaga dalam perjalanan kembali ke Lasem.

Adipati Widyaningrat melepas pakaian hitamnya dan menyamar menjadi orang Jawa. Sesampainya di Kartasura beliau melapor ke Sunan Pakubuwono II bahwa ia lari dari Lasem karena hendak dibunuh oleh kaum pembrontak. keadaan tenang Oey Ing Kiat kembali ke Lasem dan oleh Sunan Pakubuwono II kedudukannya sebagai Adipati Lasem dicabut dan oleh VOC Belanda ia hanya diberi kekuasaan mengatur orang Tionghoa Lasem dengan pangkat Mayor. Beliu digantikan oleh Surodimunggolo III yg kadipatennya di Tulis-Lasem.

Lasem 1747, rakyat Lasem dikumpulkan dan diancam :
1. Siapa-siapa yang bersengkokol dengan pemberontak akan disiksa sampai mati.
2. Dilarang menyimpan kitab-kitab suci Hindu Syiwa, Budha, Pustaka Sabda Badrasanti ( Babad Bumi Lasem ) dan catatan - catatan pembrontak dan menyerahkannya ke Kadipaten.
3. Barang siapa yang masih menyimpan akan dihukum cambuk dua puluh lima kali.
4. Candi-candi di Lasem harus dibongkar dan patung-patungnya dihancurkan.

Alhasil ribuan kitab dan buku lontar berhasil dikumpulkan di alun-alun dan dibakar, kecuali kitab-kitab yang berada di kediaman Raden Panji Margana.

Melihat kondisi di Lasem tidak aman Surodimunggolo memindahkan kadipatennya di Magersari-Rembang.Begitu pula VOC memindahkan benteng Tulis ke Rembang. 
Pada Agustus 1750 Raden Panji Margana mendengar bahwa pembrontak di Argosoka hendak mengangkat senjata maka semangatnya untuk melawan Belanda timbul kembali. Pada suatu hari Kamis Raden Panji Margana meminta agar masyarakat Lasem berkumpul, pada hari Jum’at esok harinya di alun-alun didepan masjid Lasem sembahyang Jum’at tersebut dipimpin oleh Kyai Ali Badawi seorang ulama besar Lasem & mempunyai pondok pesantren di Sumurkepel. Setelah selesai bersembahyang ia mengumumkan mengajak umat Islam Lasem perang jihad mengusir Belanda dan antek-anteknya dari bumi Rembang bergabung dengan pembrontak Tionghoa.

Rencana penyerangan Rembang ini rupanya bocor dua minggu sebelum penyerangan terjadi, Belanda dan Adipati Suroadimenggolo III yang kemudian mengungsikan anggota keluarganya ke Jepara. Bantuan prajurit dari Adipati Tuban dipimpin oleh Tumenggung Citrasoma menurunkan prajuritnya di Bonang dan Leran dan dihadang oleh pembrontak Argasoka pimpinan Raden Panji Suryakusuma. Tentara VOC dari Jepara menyusup dari laut sampai di Layur ( barat sungai Paturenan sebelah utara Lasem ). Mereka dihadang oleh pembrontak Lasem dibawah pimpinan Mayor Oey Ing Kiat yang mempunyai banyak senapan dan meriam hasil rampasan. Senjata-senjata tersebut disembunyikan dalam terowongan yang digali ditepi sungai Paturenan. Di timur sungai Paturenan sebelah utara Lasem, serdadu VOC dan prajurit Citrasoma dihadang oleh pembrontak Lasem yang dipimpin oleh Kyai Badawi. Bala sabil ini menggunakan ilmu kanuragan ” PETAK SEGARA MACAN ” yang mana ilmu ini membuat orang tak dapat terluka oleh senjata tajam. Tetapi banyak bala sabil yang mati dihantam peluru meriam yang ditembakkan Belanda dari kapalnya. Di Barat Lasem yaitu di Narukan dan Karangpace sampai ke utara dipinggir laut, pembrontak dibawah pimpinan Raden Panji Margana bertempur dengan serdadu Belanda dan antek-anteknya, bertempur jarak dekat satu lawan satu. Di Narukan ini lambung sebelah kiri Raden Panji Margana terluka oleh pedang sehingga sebagian ususnya keluar. Beliau dibawa mundur oleh Ki Mursada yang kemudian digendong oleh Ki Galiya ( pengawal pribadinya ) dibawa lari dengan dilindungi oleh Ki Mursada yang terus memainkan jurus-jurus goloknya.

Sesampainya ditempat sepi , di utara Gombong, mereka berhenti untuk merawat luka Raden Panji Margana yang banyak mengeluarkan darah yang akhirnya Raden Panji Margana meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia beliau meninggalkan pesan-pesan sebagai berikut :

1. Agar jenasahnya dikubur dibawah pohon trenggulun di desa Sambong dan kuburannya tanpa gundukan tanah dan batu nisan.
2. Istri dan anak-anaknya diungsikan ke Narukan.
3. Buku - buku suci dan Pustaka Badrasanti koleksinya agar dititipkan pada Ki Badraguna ( lurah Criwik )
3. Tembang sinom gubahannya sewaktu pulang dari perang Juwana agar dilestarikan sebagai kidung para dalang dan pesinden Lasem.

Mayor Oey Ing Kiat ketika mendengar berita bahwa Raden Panji Margana telah meninggal karena luka di Karang Pace sangat marah sambil berteriak-teriak : ” Aku ingin mati menyusul saudaraku Den Panji dan saudaraku Tan Kee Wie ”.

Dengan membawa pedang pusaka Naga Gak Sow Bun nekad maju menyusup kedepan kemedan perang. Desing peluru dan ledakan peluru meriam tak membuat ciut nyalinya. Banyak prajurit Belanda tewas di tangannya. Karena amarah yang tak terkendali membuat hilang kewaspadaannya dan beliau tertembak dadanya oleh serdadu bayaran Belanda dari Ambon.

Dengan mendekap dadanya yang terluka, Oey Ing Kiat mundur dari medan perang. Dibelakang medan perang ia ambruk dan meninggalkan pesan kepada yang mengelilinginya
1. agar jasadnya dikubur dilereng puncak gunung Bugel dan menghadap barat. Makamnya hendaknya ditandai dengan dayung perahu dan pohon beringin
2. lokasinya dirahasiakan kecuali hanya keluarga yang tahu. 
3. Jenasahnya dibawa ke Warugunung di rumah istri mudanya untuk dibersihkan dan dimakamkan.

Bupati Suroadimenggolo III dikembalikan ke Semarang karena dianggap gagal menentramkan warga Lasem. Akibat perang pembrontakan ini ribuan warga pribumi dan Tionghoa Lasem terbunuh.
Setelah kota Lasem tenang, maka pada tahun 1780 di desa Babagan masyarakat Tionghoa mendirikan monumen untuk mengenang jasa ketiga pemimpin tersebut berupa sebuah Klenteng untuk memuliakan pahlawannya. Oleh masyarakat Tionghoa di Rembang dan Juwana pahlawan-pahlawan ini dimuliakan pula dengan memasang patung pahlawan tersebut di Klenteng mereka.

PERANG ini adalah Perang yang semua orang bersatu tanpa memandang Agama, etnis / latar belakang karena semua hanya bertujuan untuk melawan Penjajah VOC belanda.

dari Kitab Carita Sajarah Lasem Karya R. Panji Kamzah yang ditulis ulang oleh R. Panji Karsono tahun 1920.
[gss]

Dari Lasem, salam kami untuk Dunia
Lasem Creative Heritage Society

LasemFest Hari Pertama - Napak Tilas Pejuang Perang Lasem (3)

Oke kita lanjut lagi setelah dari Makam Raden Panji Margono...

Perjalanan dimulai sekitar pukul 10.35 meninggalkan Dorokandang menuju ke Jalan Raya Lasem, menuju ke timur perlahan merayap mengikuti alur, lalu setelah sampai di Depan BNI Lasem belok ke selatan tepatnya ke Jalan Nyah Waloh desa Karangturi melintasi Kampoeng Lampion lalu belok ke Timur melintasi depan Rumah Oma Opa dan 'jablas lurus' ke Perempatan Cap Jago, kemudian belok ke kanan ke selatan sodara-sodara (wiyah ganthane koyok pemnadu sirkuit balapan :D #LasemLingua) tepatnya melintasi Jalan Eyang Sambu. Merambat terus perlahan namun pasti, sampai di kompleks Makam desa Pohlandak bertolak ke kiri menuju desa Warugunung lewat jalur selatan dan sampai di pertiagaan dekat jalan setapak menuju lereng Gunung Bugel tepatnya menuju tempat terakhir di Napak Tilas Pejuang Perang Lasem edisi tahun 2013.

Setelah memarkirkan motor di warung kopi terdekat, kami sedikit melakukan pembekalan sebelum mendaki lereng Gunung Bugel. Dengan semangat yang tak kenal lelah namun capek (wakakak podho ae cah), kami yang masih sanggup mendaki langsung saja menuju ke spot terakhir. Manakah itu???? (tanykan peta, tanyakan peta - korban Film Dora :D)

Yap, Makam Raden Ngabehi Tumenggung Widyaningrat / Oei Ing Kiat. Beliau adalah satu-satunya adipati Lasem yang berdarah Tionghoa dan beliau adalah Tionghoa Muslim. Jadi kalau Anda juga seorang muslim dan ingin menahlilkan atau meyasini, silakan. Oei Ing Kiat juga merupakan salah satu Pahlawan Lasem yang memimpin Laskar Pasukan China (Tionghoa) dalam Perang Lasem. Ia adalah salah satu dari 3 Serangkai bersama saudara angkatnya R.M.Panji Margono dan Babah Tan Kee Wi yang ketiga tokoh ini sangat legendaris dan berbahaya bagi musuh-musuhnya.



Perjalanan kali ini sungguh melelahkan dan menguras tenaga ditambah cuaca Area Kota Lasem di siang hari yang terik panas membara (wuuuuiiihhhhh... bosone ngeri ngerong :D).
Bahkan banyak yang bersandar dibawah pohon jati dan jambu mente dengan membawa kipas dari jaun jati yang kering berserakan di sekitar area makam. Setelah agak pulih tenaga kami, dilanjutkan dengan penjelasan dari FOKMAS mengenai area yang kami kunjungi kali ini. Di area ini terdapat 2 bangunan makam, yaitu keramik biru-hijau adalah Makam Oei Ing Kiat yang terlihat di samping ini. Sembari masih melepas lelah, kami sharing-sharing masalah Lasem dan tanya-jawab urun-rembug pun seru antara pihak Fokmas, Pelajar, Guru, Mahasiswa, bos LB (toko LautBonang), maupun masyarakat. Bahkan diantara kami ada yang nyeletuk, "Kalau sudah di atas sini, rasanya ogah untuk turun. Masih betah melepas lelah di sini (karena sangking panasnya)". Usai agak lama di sana, kami pun akhirnya turun ke bawah dan ditraktir es oleh bos LB di warung tempat parkir motor di bawah. Selesai sudah perjalanan Napak Tilas Pejuang Perang Lasem edisi Lasem Fest 2013 ini.Tanpa kita sadari, banyak ilmu yang kita dapat dan itu sangat penting bagi kita khususnya Wong Lasem.
[gss]

Dari Lasem, salam kami untuk Dunia
Lasem Creative Heritage Society